Rabu, 16 Desember 2015

BERPIKIR KRITIS

BERFIKIR KRITIS


Berpikir Kritis (critical thinking) adalah sinonim dari pengambilan keputusan (decision making), perencanaan stratejik (strategic planning), proses ilmiah (scientific process), dan pemecahan masalah (problem solving).
Berpikir kritis mengandung makna sebagai proses penilaian atau pengambilan keputusan yang penuh
pertimbangan dan dilakukan secara mandiri (Peter Facione, ). Proses perumusan alasan dan pertimbangan mengenai  fakta, keadaan, konsep, metode dan kriteria. Richard Paul mendefinisikan berpikir kritis sebagai proses merumuskan  alasan yang tertib secara aktif dan terampil dari menyusun konsep, mengaplikasikan,  menganalisis, mengintegrasikan (sintesis), atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan melalui proses pengamatan, pengalaman, refleksi, pemberian alasan (reasoning) atau komunikasi sebagai dasar dalam menentukan tindakan.
Berpikir kritis dapat muncul kapan pun dalam  peroses penilaian, keputusan, atau penyelesaian masalah secara umum. Kapan pun seseorang  berusaha untuk mengetahui apa yang perlu dipercaya, apa yang perlu diketahui alasannya. Proses  pengolahannya melalui usaha dan reflektif seperti membaca, menulis, berbicara dan mendengar. Semua dapat dilakukan  secara kritis.
Berpikir kritis  sangat penting agar dapat menggunakan potensi pikiran secara optimal sehingga  menjadi pembaca yang cermat dan penulis kreatif.
Dari uraian ini kita mengetahui bahwa secara umum, berpikir kritis merupakan ”sebuah cara  mengatasi permasalahan kehidupan”.
Proses Berpikir Kritis
Proses berpikir kritis  bermula dari ilmu  pengetahuan. Semua dimulai denganmengetahui serta meningkatkan pemahaman mengenai topik yang sedang dipikirkan. Contoh, jika kita berpikir mengenai bagaimana cara memperbaiki mesin, kita pasti memerlukan pengetahuan  mengenai cara kerja mesin dan sumber permasalahan sehingga terjadi kerusakan.
Pada proses ini erjadi usaha  meningkatkan pemahaman. Yang terjadi dalam proses ini adalah  seseorang mengerti tentang apa yang dipikirkannya. Jika tidak memahami apa yang kita pikirkan, maka kita sesungguhnya tidak dapat memikirkannya secara efektif.
Langkah berpikir kritis adalah menerapkan pikiran ke dalam tindakan atau aplikasi. Jika kita  tidak dapat mengaplikasikan pemikiran dan pengetahuan pada kehidupan nyata, menerapkannya untuk hal yang bermanfaat bagi kehidupan,  maka sesungguhnya kita belum mengetahui dengan benar mengenai  pentingnya memikirkan suatu. Karena prinsip ini maka kemampuan berpikir yang ideal adalah dikuatkan dengan kemampuan memanfatkan atau merealisasikan  pikirkan ke dalam bentuk tindakan.
Jika langkah pemikiran seperti ini dapat dilalui, maka keterampilan lanjutan yang perlu ditingkatkan adalah menganalisis   topik pemikiran. Menganalisis berarti membagi atau memecah  informasi ke dalam kategori dan sub kategori. Memilih dan memilah berbagai hal yang masuk ke dalam bagian yang lebih penting sehingga dapat mengelompokan berdasarkan ciri yang sejenis, misalnya bagian penting dan kurang penting, bagian yang kuat atau yang lemah, atau mengelompokan dengan pendekatan yang  lainnya.
Langkah terakhir berpikir kritis adalah berkir sintesis. Ini adalah langkah dalam mengorganisir, menyusun konsep, menggubah (menyusun), dan menciptakan hal baru yang anda kembangkan dari yang sudah ada.
Semula banyak orang bersepkat bahwa puncaknya berpikir kritis adalah  evaluasi. Lihat kembali produk pikiran akhir yang kita hasilkan.. Jika kita menyukainya, maka tuntaskan.  Jika tidak, kembali ke langkah awal dengan sasaran dan tujuan yang berbeda. Ingatlah, jangan menyelesaikan sesuatu yang anda tidak  sukai karena akhirnya tidak  akan menghasilkan pemikiran atau penerapan yang anda sukai,. Jika suka maka lanjutkan untuk menggunakannya.
Perlu kita perhatikan bahwa sejalan dengan semakin tingginya nilai peradaban manusia, maka kemampuan berpikir level evaluasi ternyata tidak menjadi pemuncak, kini ditegaskan puncaknya kemampuan berpikir terletak pada kecakapan mengubah pikiran menjadi karya yang kreatif yang berguna untuk membangun kehidupan yang lebih baik, itulah yang disebut dengan berpikir kreatif.
Model berpikir yang dijelasakan ini hanya merupakan salah satu model yang menggambarkan tahap-tahap berpikir kritis yang digunakan dalam pentahapan dalam ranah kognitif seperti yang dijelaskan Bloom. Tentu banyak cara lain yang dapat kita pilih.
Langkah – langkah sederhana ini telah  dideskripsikan dalam beberapa tahap seperi yang dijelaskan  oleh Wolcott dan Lynch.  Jika proses ini digunakan di sekolah , maka siswa memulai mengembangkan kemampuan berpikir  kritis dengan mengikuti langkah-langkah pnegembangan pada setiap tahap seperti di bahwa ini, mulailah dari langkah 1, lanjutkan pada langkah 2 dan terus mengikuti langkah selanjutnya.
Langkah 1Mengidentifikasi masalah, informasi yang relevan dan semua dugaan tentang masalah tersebut. Ini termasuk kesadaran akan kemungkinan adanya lebih dari satu solusi.
Langkah 3Mengeksplorasi interpretasi dan mengidentifikasi hubungan yang ada. Ini termasuk mengenali bias/prasangka yang ada, menghubungkan alasan yang terkait dengan berbagai alternatif pandangan dan mengorganisir informasi yang ada sehingga menghasilkan data yang berarti.
Langkah 3Menentukan prioritas alternatif yang ada dan mengkomunikasikan kesimpulan.Ini termasuk proses menganalisis dengan cermat dalam mengembangkan panduan yang dipakai untuk menentukan faktor, dan mempertahankan  solusi yang terpilih.
Langkah 4Mengintegrasikan, memonitor dan menyaring strategi untuk penanganan ulang masalah. Ini termasuk mengetahui pembatasan dari solusi yang terpilih dan mengembangkan sebuah proses berkelanjutan untuk membangkitkan dan menggunakan informasi baru.
Contoh Berpikir Kritis
Tentukan masalah yang mungkin dihadapi siswa baikyang secara langsung dengan bahan pelajaran atau tugas yang  terkait dengan kondisi atau  situasi pribadi.  Koran atau sumber informasi dari internet  merupakan salah satu sumber  masalah yang ada di kehidupan nyata yang sangat beragam. Pilih  objek yang dapat  siswa lihat relevansi atau keterkaitannya.
Contoh Umum
Seorang guru biologi dapat mengajukan masalah mengenai kloning manusia atau pembuatan bendungan untuk meningkatkan kelangsungan hidup ikan. Kedua topik tersebut bisa mengundang beragam jenis pendapat dan dapat dijawaban dengan  fakta-fakta pendukung yang ada. Informasi tentang itu dapat dilihat dari berbagai faktor,  di antaranya kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah, penelitian dari pihak akademisi, laporan LSM lingkungan hidup, dan sebagainya.
Tujuan pelatihan bukan untuk menemukan jawaban yang tepat, tetapi lebih kepada melatih proses berpikir kritis untuk mengembangkan kemampuan menemukan berbagai kebenaran sebagai alternatif. Memilih alternatif terbaik dan paling sedikit kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkannya.
Siswa selanjutnya diminta untuk  memutuskan apa yang pertama kali mereka pikirkan, mereka harus mengungkapkan pula argumennya, mengapa hal itu penting untuk menjadi bahan pemikiran awal, siswa perlu mendukung argumentasinya dengan mencari pandangan dan bukti-bukti lain. Akhirnya mereka harus memenutuskan alternatif mana yang paling logis untuk diterapkan, pendapat mana yang paling tepat menurut mereka.
Masalah yang mendasari cara berpikir kritis sangat bergantung pada jenis pelajaran. Pendidik  dapat mengarahkan siswa untuk melengkapi aktivitas dan menetapkan pendapat mereka pada saat awal pelajaran. Kemudian, sebagai materi  tambahan, pendapat,  dan pandangan  dirangkum selama proses pengajaran. Ssiswa juga diminta untuk menjawab pertanyaan yang sama di akhir pelajaran untuk menentukan apakah semua jawaban dapat mereka kembangkan secara kritis.
Sembilan tips mengembangkan kompetensi berpikir kritis:
1. Berpikiran terbuka terhadap ide-ide baru.
2. Mengetahui bahwa setiap orang bisa memiliki pandangan yang berbeda.
3. Memisahkan berpikir dengan perasaan dan berpikir logis.
4. Menanyakan hal-hal yang anda anggap tidak masuk akal.
5. Menghindari kesalahan umum dalam pemberian alasan yang anda buat.
6. Jangan berargumen tentang sesuatu yang anda tidak mengerti.
7. Kembangkanlah kosakata yang tepat untuk penyampaian dan pengertian ide yang lebih baik
8. Mengetahui ketika anda memerlukan informasi lebih lanjut.
9. Mengetahui perbedaan antara kesimpulan yang dapat dan harus benar.
Latihan
Siswa perlu merumuskan  satu jawaban yang tepat dari masalah yang dihadapinya. Untuk itu, siswa membutuhkan panduan  berpikir secara sistematis.  Guru menyediakan informasi mengenai berbagai pendekatan atau sudut pandang terhadap masalah. Juga dapat  menyediakan perangkat pertanyaan untuk membantu siswa melewati setahap demi setahap.Penugasan juga dapat dilakikan secara terpisah, satu kali penugasan dimulai dengan Level 1 atau dapat juga berupa satu semester panjang yang dimulai dengan level 1 dan berlanjut ke langkah yang lebih tinggi dengan mengumpulkan serta membagi informasi secara bersama-sama  di antara para siswa.
Empat Pertanyaan. Wolcott dan Lynch menyarankan untuk memulai pertanyaan sebagai berikut kepada para siswa :
1. Apa pendapat kalian tentang masalah ini ?
2. Apa yang menjadi landasan pendapat kalian ?
3. Apakah memungkinkan untuk menguji? Apakah pendapat kalian benar ? Jika iya, bagaimana caranya ? Jika tidak, mengapa begitu ?
4. Bagaimana bisa berbeda pendapat tentang masalah ini ?
Langkah utama penugasan dapat dimulai dengan menentukan butir-butir penugasan yang berpotensi penting dalam memandu siswa melewati tiap langkahnya berpikir kritis seperti contoh di bawah ini:
Langkah 1 :Identifikasi masalah, informasi yang relevan atau tidak menentu.
  • Jelaskan mengapa orang-orang tidak setuju tentang suatu permasalahan
  • Buat catatan informasi yang mungkin berguna dalam pemikiran mengenai topik tertentu
  • Konsultasi ke para ahli dan eksplorasi kepustakaan atau sumber lain yang terkait : buat list tentang masalah yang terkait dengan topik dan buat list berbagai sudut pandang terkait.
  • Identifikasi beberapa solusi yang memungkinkan untuk permasalahan tersebut
  • Seleksi  informasi yang dapat mengidentifikasi alasan dan bukti pendukung terhadap solusi yang diberikan
Langkah 2 :Mengeksplorasi interpretasi dan koneksi
  • Mendiskusikan kekuatan dan kelemahan dari masing-masing bukti yang terkait dengan topik permasalahan
  • Membandingkan dan membedakan argumen yang terkait dengan dua atau lebih solusi terhadap permasalahan tersebut
  • Mengidentifikasi dan mendiskusikan implikasi dari pengalaman pribadi dan pilihan mengenai bagaimana anda berpikir tentang permasalahan tersebut.
  • Mengembangkan satu atau lebih cara untuk mengorganisir informasi dan menganalisisnya agar dapat berpikir lebih detail mengenaik topic tersebut
Langkah 3 : Memprioritaskan alternative dan mengkomunikasikan kesimpulan
  • Mempersiapkan dan mempertahankan sebuah solusi
  • Mengidentifikasi masalah yang anda lebih prioritaskan dibanding masalah lain terkait dengan kesimpulan yang akan anda buat
  • Jelaskan bagaimana anda merespon argumen pendukung untuk solusi yang berbeda
  • Jelaskan bagaimana anda mendesai catatan atau presentasi yang dapat dikomunikasikan secara efektif terhadap audiens anda
  • Deskripsikan bagaimana anda akan mengkomunikasikan secara berbeda mengenai suatu topic dalam keadaan yang berbeda
Langkah 4 :Mengintegrasikan. Memantau, dan menyaring strategi untuk penanganan ulang masalah.
  • Deskripsikan batasan dari usulan solusi anda atas permasalahan terkait
  • Deskripsikan kondisi yang akan anda pertimbangkan ulang untuk solusi dari anda
  • Jelaskan bagaimana kondisi dapat berubah di masa depan, menghasilkan perubahan yang memungkinkan dalam solusi paling logis terhadap permasalahan terkait.
  • Membangun sebuah rencana untuk memantau kinerja dari solusi yang anda
Siswa mungkin memiliki ketidaknyamanan dengan proses ini karena mereka berusaha memikirkan jawaban yang diharapkan pembimbing.  Penting agar dipertimbangkan dalam hal ini pendidik  tidak perlu memberikan peringkat nilai, tetapi bagaimana cara mereka menjawab butir-butir  yang ada dan bagaimana mereka mampu menjawab masing-masing pertanyaan yang ada yang ujungnya adalah mereka menentukan solusi alternatif yang menurut pertimbangan mereka paling logis.
Keunggulan sekolah pada prinsipnya ditentukan oleh dua hal utama yaitu efektivitas pengembangan keterampilan siswa berpikir kritis dan pengembangan penguasaan ilmu pengetahuan. Integrasi antara keduanya menghasilan prestasi.

RESEARCH : http://gurupembaharu.com

MENDENGAR AKTIF

Mendengar Aktif
 Apa sih maksudnya mendengar aktif?



Mendengar aktif adalah menangkap suara dengan telinga dengan giat dan dinamis. Apa bedanya dengan mendengar? Jika mendengar, kita hanya menangkap suara saja tanpa diikuti oleh reaksi apapun. Sedangkan dengan mendengar aktif, kita mampu memberikan respon setelah mendengar
dan kita lebih banyak menerima informasi baru.
Proses dalam mendengar aktif yaitu dimulai dengan mendengarkan informasi, mengerti maksud dari informasi yang disampaikan pada kita, mengingat informasi tersebut, menafsirkannya ke berbagai macam sudut pandang dan dibuat kesimulannya, mengevaluasi informasi yang sudah kita simpulkan, dan kemudian kita merespon informasi yang diberikan oleh pembicara.
Ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam mendengar aktif, yaitu intensitas, empati, kemampuan untuk memasuki dunia yang dipersepsikan orang lain, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, penerimaan pesan, dan feedback.
Manfaat yang didapatkan dari mendengar aktif antara lain meningkatkan pemahaman pembicara dan pendengar, mendorong komunikasi lebih jauh, membantu menyelesaikan masalah, mengenal watak orang, mendapat info yang diperlukan, serta membina dan meningkatkan hubungan.
Segala sesuatu itu tidak ada yang sempurna. Bahkan dalam hal mendengar aktif ini, ada hambatan-hambatan yang mengganggu proses mendengar aktif tersebut. Dengan adanya sebuah hambatan, akan menjadikan seseorang lebih berusaha dan lebih berkembang untuk mengatasi hambatan yang dihadapi. Hambatan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu fisik dan mental. Hambatan fisik yaitu gangguan kesehatan, lingkungan sekitar, noise, tata letak ruang, temperatur, pencahayaan, dll. Sedangkan hambatan mental yaitu kecepatan berpikir, keterbatasan wawasan dan pengetahuan, prasangka, dan ketidaksabaran.


            Selama kursus ini, anda akan melihat bahwa pertanyaan (bagaimana merumuskan pertanyaan, bagaimana mengajukannya dan jenis pertanyaan apa yang diajukan) akan menjadi tema yang konstan. Merumuskan dan mengajukan
pertanyaan yang baik, pertanyaan menyalurkan (funnel questions), menyelidik, mengenang (recall questions), dapat membantu guru untuk benar­benar memikirkan apa yangmereka inginkan, mengkonfrontir ketakutan mereka dan mencapai akar penyebab masalah mereka. Akan tetapi pertanyaan hanyalah satu alat. Satu lagi topik pendampingan yang sama pentingnya ialah mendengarkan, terutama mendengarkan secara aktif.
Mendengarkan adalah salah satu kecakapan yang sangat
penting yang bisa dimiliki seorang pendamping. Kecakapan mendengar anda mempunyai dampak utama bagi keefektifan anda sebagai seorang pendamping dan pada kualitas hubungan anda dengan para guru.
Untuk Apa Kita Mendengar?

·        Kita mendengar untuk memperoleh informasi

·        Kita mendengar untuk mengerti

·        Kita mendengar untuk memperoleh kesenagan

·        Kita mendengar untuk belajar

                Dengan semua pendengaran yang kita lakukan, anda mungkin berpikir bahwa dengan demikian manusia pasti menjadi pendengar yang baik! Tetapi sebenarnya tidak demikian. Tergantung dari studi yang dikutip, kita ingat hanya 25­,50 persen dari apa yang kita dengar. Itu berarti bahwa ketika anda bekerja dengan bos,kolega, guru atau suami/istri anda selama 10 menit, mereka hanya benar­benar mendengarkan 2½­5 menit dari seluruh percakapan. Mudah­-mudahan bagian penting dari 25,­50 persen didengar, tetapi bagaimana kalau tidak?
Dengan menjadi pendengar yang lebih baik, kita dapat tingkatkan kemampuan kita untuk bekerja dengan, membangun hubungan, membantu, mempengaruhi, membujuk dan bernegosiasi dengan para guru. Apa lagi?
Kita dapat menghindari konflik dan salah paham.
Mendengarkan secara aktif
Mendengarkan secara aktifialah ketika anda melakukan usaha secara sadar untuk mendengarkan bukan hanya kata­kata yang diucapkan orang lain, tetapi yang lebih penting ialah berusaha memahami pesan yang disampaikan secara menyeluruh.

Teknik untuk Mendengarkan secara aktif 


Pilihlah suatu lingkungan yang kondusif untuk mendengarkan: 

             Hal ini tidak mudah dilakukan di sekolah di mana ada banyak suara bising dan banyak kegiatan. Tetapianda dan para guru tidak ingin diganggu dengan suara bising anak­anak yang berlari ke sana ke mari. Dalam hal ini, usahakan untuk bertemu setelah sekolah selesai dalam sebuah kelas yang kosong atau di kantor kepala sekolah. Bersihkan pikiran anda: Sebelum bertemu dengan para guru, luangkan beberapasaat untuk membersihkan pikiran anda dari hal­hal lain. Hal ini dapat dilakukan dengan menutup mata dan berkonsentrasi pada guru atau dengan mengambil napas panjang atau dengan mengatakan kepada diri anda dengan suara keras, “Saya akan fokus hanya pada guru ini.” Kalau ada pikiran lain yang memasuki kepala anda pada saat guru sedang berbicara, singkirkanlah pikiran itu secara mental. Ulangilah frasa-frasa penting dalam hati:Kalau anda merasa benar­benar sulit untuk berkonsentrasi pada apa yang dikatakan guru, coba ulangi kata­katanya dalam hati (secara mental) setelah ia berbicara – hal ini akan menguatkan pesan yang disampaikan kepada anda dan membantu anda mengendalikan hanyutnya pikiran (mind drift).
 
Akuilah si pembicara:

                Pandanglah pembicara dan akuilah (lewat anggukan atau suara “uh huh”). Hal ini tidak harus berarti bahwa anda setuju dengan dia; anda hanya ingin menunujukan bahwa anda benar­benar mendengar. Menggunakan bahasa tubuh (sering mengangguk, duduk dengan tegak, bersandar ke depan)dan tanda­tanda lain (tersenyum kalau sesuai) untuk menunjukan bahwa anda mendengarkan, tetapi juga mengingatkan anda untuk memperhatikan dan tidak membiarkan pikiran anda mengembara ke mana­mana. Dorong pembicara untuk terus berbicara:Beri respon kepada guru dengan suatu cara yang mendorongnya untuk terus berbicara, sehingga anda dapat memperoleh informasi yang anda inginkan. Sekalipun mengangguk dan mengatakan, “Uh huh” menunjukkan bahwa anda
memperhatikan apa yang ia katakan, pertanyaan atau komentar dapat juga membuat rekapitulasi dari apa yang telah dikatakan dan mengkomunikasikan bahwa anda memahami pesan yang disampaikan. Di sinilah pentingnya memahami jenis pertanyaan yang sudah anda pelajari seperti pertanyaan menyelidiki (probing) menyalurkan dan yang berkaitan dengan informasi. 

Jangan siapkan bantahan pada saat pembica sedang berbicara:


Jangan rencanakan bagaimana anda akan merespons kepada guru. Dengarkan saja. Hal ini memang sulit dilakukan, filter personal kita, asumsi, penilaian dan keyakinan kita dapat mengganggu apa yang kita dengarkan dan sering kita begitu fokus pada apa yang ingin kita katakan sehingga kita tidak mendengarkan dengan baik. Kita hanya menunggu sampai pembicara berhenti berbicara! Ingatlah, bahwa sebagai pendamping, mendengarkanakan membantu anda menilai di mana guru berada dan peran anda di sini ialah benar­benar memahami apa yang sedang dibicarakan.
Ketika ia selesai berbicara, dan kalau anda harus merespon, anda dapat berhenti sejenak dan mulai merumuskan pikiran anda. Ajukan pertanyaan klarifikasi apabila anda tidak mengerti:
Kadang­kadang pikiran kita berkelana sejenak dan kita kehilangan benang merah dari percakapan itu. Atau kita ‘tersesat’ dan tidak tahu maksud si guru. Kalau hal ini terjadi, berhenti dan minta guru untuk memberi klarifikasi. Jangan berpura­pura anda telah mendengarkan segala sesuatu dan jangan berpura­-pura anda telah memahami segala sesuatu kalau sebetulnya tidak. Mengajukan pertanyaan klarifikasi menunjukan bahwa anda benar­benar menaruh minat pada apa yang dikatakan. 

 Catatlah pada sehelai kertas frasa-frasa penting:

                Kalau anda takut tidak akan dapat mengingat semua hal yang penting, catatlah komentarpenting dari guru (kata dan frasa, bukan alinea) 

Ringkaskan dan berilah umpan balik:

              Refleksikan apa yang telah dikatakan dengan menyebut kembali. "Apa yang saya dengar ialah," dan "Kelihatannya anda katakan," adalah cara yang baik untuk melakukan refleksi dan meringkas. Hal seperti ini membantu guru dan anda sendiri. Feedback dan meringkas dapat juga menyangkut “menggemakan kembali (echoing)” yaitu mengulangi kata­kata atau frasa­frasa kecil yang penting yang dikatakan guru. Echoing biasanya diikuti dengan anggukan untuk menunjukkan bahwa anda sebagai pendengar benar­benar memahami apa yang dikatakan dan perasaan yang ada dibalik kata­kata guru.

Tangguhkan Penilaian – Jangan Menghakimi:
  
                kalau guru menjadi agak emosional atau menyimpang, jangan interupsi (sampai ada jedah yangcocok). Menginterupsi hanyah buang­-buang waktu. Ia dapat membuat pembicara frustrasi dan membatasi pamahaman yang sesungguhnya atas pesan yang ingin disampaikan. Jangan menginterupsi dengan argumentasi yang melawan. Beri kesempatan kepada pembicara untuk menyelesaikan pembicaraannya. Usahakan untuk menetralisir emosi yang negatif:Kalau anda menyadari bahwa anda sedang memberi respons secara emosional pada apa yang dikatakan seseorang, katakanlah hal yang berikut, dan mintalah informasi yang lebih banyak : "Mungkin saya tidak begitu mengerti apa yang anda katakan tadi. Tetapi saya kira anda katakan I X; benarkah itu maksud anda?"
Berikan respon yang layak:
Ingat bahwa mendengarkan secara aktif adalah sebuah model bagi penghormatan dan pengertian. Anda juga dapat memperoleh informasi dan perspektif. Anda tidak akan menambah apapun kalau anda menyerang atau mengkritik pembicara.
Karena itu bersikaplah tulus, terbuka, dan jujur dalam respons anda. Sampaikan pendapat anda dengan nada hormat dan perlakukan orang lain sesuaidengan bagaimana ia ingin diperlakukan. 

Sebagai ringkasan: Mendengarkan secara aktif berarti
(a)   LISTEN:
L = Kelihatan tertarik
I = Libatkan diri anda dengan memberi respons
S = Tetaplah berada pada target
T = Tes pemahaman anda
E = Evaluasikan pesannya
N = Netralkan perasaan anda

 catatan kaki : https://uher1.files.wordpress.com
                      http://dyanikaayu.blogspot.co.id

BERBICARA EFEKTIF

BERBICARA EFEKTIF



Apa itu bicara efektif?
Postingan saya kali ini akan membahas salah satu materi yang diberikan pada LKMM Pra TD . Simak baik-baik ya, semoga bermanfaat.
Bicara efektif adalah bicara yang tepat tujuan,
tidak bertele-tele, dan tidak rancu. Dalam berbicara efektif, ada banyak hal yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah tujuan pembicaraan.
Seseorang harus tahu benar tujuannya berbicara, agar saat berbicara tetap fokus dan tidak ada informasi yang terlewatkan. Percuma toh sudah bicara panjang lebar tapi saat waktu habis, tujuan pembicaraannya belum tercapai. 
Poin ke dua yang harus diperhatikan adalah topik. Ketika berbicara dengan orang lain, terlebih saat berbicara didepan umum, anda harus pintar-pintar memilih topik pembicaraan agar pendengan tidak bosan dan tetap fokus pada pembicaraan anda. Topik yang dipilih sebaiknya yang ringan dan up to date agar lebih ngenapada pendengar serta mudah dimengerti.
Poin penting yang ketiga dan yang harus benar-benar diperhatikan adalah siapa lawan bicara kita. Siapa yang kita ajak bicara. Setelah mengetahui siapa pendengar kita, kita bisa menyesuaikan topik yang sebaiknya dipilih. Nggak lucu kan, kalau mengajak bicara anak kecil dengan topik yang berat? Nah, pendengar harus sangat diperhatikan agar tidak ada kesalahpahaman informasi.
Selain itu, teknik berbicara juga harus diperhatikan. Tatap mata lawan bicara dan berkaitan dengan poin ketiga, perhatikan siapa lawan bicara kita, karena itu menentukan teknik bicara yang harus kita aplikasikan saat berbicara. Tentunya akan berbeda ketika berbicara dengan dosen dan rekan sepantaran.
Poin terakhir yang harus diperhatikan adalah waktu. Waktu sangat penting saat kita dituntut untuk berbicara efektif. Hal ini berkaitan dengan tujuan berbicara. Jangan sampai ketika waktu yang diberikan selesai, namun tujuan berbicara belum disampaikan, atau belum tepat pada poin yang ingin kita sampaikan.
Berikut ini tips / teknik bagaimana berbicara yang efektif , lugas dan jelas. Terutama ketika kita berbicara dengan atasan atau sedang meloby orang atau saat kita presentasi dihadapan orang banyak.  Jika kita bicara terlalu panjang lebar dan tidak penting maka wibawa kita akan berkurang dan audience pastinya kesal dan bosen.
Oleh karena itu, saya akan sharing mengenai teknik jitu presentasi secara efektif. Semoga sangat bermanfaat bagi kalian yang ingin menguasai communication skill yang baik.
  1.  jangan terlalu sering menggunakan kata “e” atau “emm”  yang merupakan jedah antar kalimat.
  2. ketika berbicara usahakan melihat dahi audience agar tampak seolah menatap wajah para audience.
  3. nada dan ritme berbicara di usahakan datar (tidak tinggi rendah)
  4. kuasai audience dengan joke segar tetapi tidak porno/jorok
  5. timbulkan interaksi komunikasi yg seimbang dgn audience artinya kadangkala kemampuan mendengarkan akan lebih baik daripada berbicara untuk presentasi tertentu.
  6. Usahakan agar pesan yang kita kirimkan mudah dipahami
  7. Pengirim pesan harus dipercaya oleh penerima pesan
  8. Gunakan pesan non-verbal sesuai dengan pesan verbalnya
  9. Ulangi pesan verbal yang ingin anda sampaikan seperlunya
  10. Usahakan mendapat feedback dari pendengar, hal ini bisa menjadi tolak ukur apakah pesan anda tersampaikan atau tidak
Danny I. Yatim, Media & Communication Adviser dari GRM International, mengadakan lokakarya berpresentasi efektif. Salah satu materinya adalah kesalahpengggunaan tiga kata yang perlu kita hilangkan dari kebiasaan berbicara kita. Penggunaan tiga kata ini berakar pada budaya rendah hati yang pada dasarnya baik. Sayangnya, berdampak buruk pada kekuatan pesan kita.
Apa saja tiga kata itu?
1. Kebetulan
- “Kebetulan, saya ditunjuk sebagai ketua panitia.”
– “Kebetulan, Pak Danny berada di sini untuk menyampaikan bagaimana cara presentasi yang baik.”
Danny biasanya langsung memberikan faktor kejutan dengan menyampaikan, “Bapak-bapak mungkin kebetulan berada di sini. Tapi saya tidak. Saya tidak kebetulan ada di sini. Saya memang sengaja ke sini untuk kepentingan Bapak-bapak semua.”
Kalau memang bukan kebetulan, jangan gunakan kata ini. Tunjukkan niat dan keinginan kita sejelas-jelasnya. “Saya dipilih sebagai ketua panitia berdasarkan kesepakatan kita bersama. Karena itu, saya mengharapkan kerja sama Anda semua.”
2. Mungkin
- “Alternatifnya mungkin ada dua…”
– “Solusinya mungkin bisa kita temukan dengan cara…”
Hilangkan kata “mungkin” dalam konteks di atas. Yang pasti-pasti saja. Kalau memang penting bagi hadirin untuk mengetahui probabilitas, sampaikan dengan jelas. “Ini adalah solusinya. Berdasarkan pengalaman kita dari tahun 1995, kemungkinan berhasilnya 75%.”
3. (Akan) Mencoba
- “Saya akan mencoba menyanyikan sebuah lagu.”
– “Saya coba jelaskan dengan diagram berikut…”
Seperti yang disampaikan Yoda dalam Star Wars, “Lakukan [saja]. Jangan mencoba.”
Hilangkan semua percobaan dan jadikanlah pesan yang kuat:
+ “Saya akan menyanyikan sebuah lagu.”
+ “Lihat diagram berikut.”
Apakah tiga kesalahpenggunaan kata ini sudah Anda hilangkan dari gaya bicara Anda?
RESEARCH :    http://anriz.com
                        http://sellawahyu.blogspot.co.id

PERSEPSI

PERSEPSI

Persepsi (dari bahasa Latin perceptio, percipio) adalah tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memeberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra. Seperti misalnya penglihatan yang merupakan cahaya yang mengenai retina pada mata, pencium yang memakai
media molekul bau (aroma), dan pendengaran yang melibatkan gelombang suara. Persepsi bukanlah penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk oleh pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian. Persepsi 
bergantung pada fungsi kompleks sistem saraf, tetapi tampak tidak ada karena terjadi di luar kesadaran.
Sejak ditemukannya psikologi eksperimen pada abad ke-19, pemahaman psikologi terhadap persepsi telah berkembang melalui penggabungan berbagai teknik.Dalam bidang psikofisika telah dijelaskan secara kuantitatif hubungan antara sifat-sifat fisika dari suatu rangsangan dan persepsi. Ilmu saraf sensoris mempelajari tentang mekanisme otak yang mendasari persepsi. Sistem persepsi juga bisa dipelajari melalui komputasi, dari informasi yang diproses oleh sistem tersebut. Persepsi dalam filosofi adalah sejauh mana unsur-unsur sensori seperti suara, aroma, atau warna ada dalam realitas objektif, bukan dalam pikiran perseptor.

KEKONSTANAN PERSEPSI

Di dalam pembelajaran persepsi kita perlu juga mengenal tentang kekonstanan persepsi (konsistensi), yaitu persepsi bersifat tetap yang dipengaruhi oleh pengalaman. Kekonstanan persepsi tersebut meliputi bentuk, ukuran, dan warna. Salah satu contoh kekonstanan persepsi, yaitu ketika kita meminum susu ditempat yang gelap maka kita tidak akan menyebut warna susu tersebut hitam, melainkan kita akan tetap menyebut warna susu adalah putih meski di dalam kegelapan warna putih sebenarnya tidak tampak.
Begitu pula saat kita melihat uang logam dari arah samping, kita tetap akan menyebut uang logam tersebut berbentuk bundar. Padahal apabila kita melihat dari samping maka sebenarnya kita melihat uang logam tersebut berbentuk pipih. Itulah yang disebut dengan kekonstanan persepsi, kita memberikan persepsi terhadap suatu obyek berdasarkan pengalaman yang kita peroleh sebelumnya

TEORI PERSEPSI HUBUNGAN

Teori hubungan adalah usaha ketika individu-individu mengamati perilaku untuk menentukan apakah hal ini disebabkan secara internal atau eksternal.

Persepsi selektif

persepsi selektif adalah menginterpretasikan secara selektif apa yang dilihat seseorang yang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang.

Efek halo

Efek halo adalah membuat sebuah gambaran umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik. Ketika membuat sebuah kesan umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik, seperti kepandaian, keramahan, atau penampilan, efek halo sedang bekerja. Kenyataan akan efek halo diperkuat dalam sebuah penelitian, yaitu saat para pelaku diberi daftar sifat seperti pandai, mahir, praktis, rajin, tekun, dan ramah, kemudian diminta untuk mengevaluasi individu dengan sifat-sifat tersebut diberlakukan. Ketika sifat-sifat itu digunakan, individu tersebut dinilai bijaksana, humoris, populer, dan imajinatif. Ketika daftar yang sama dimodifikasi diperoleh serangkaian persepsi yang sama sekali berbeda - beda.

PEMBEDAAN DENGAN SENSASI

Istilah persepsi sering dikacaukan dengan sensasi. Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan stimulus tersebut. Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.
Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang tidak enak dipakai menulis, saat otak mendapat stimulus rabaan meja yang kasar, penglihatan atas meja yang banyak coretan, dan kenangan pada masa lalu saat memakai meja yang mirip lalu tulisan menjadi jelek.

JENIS-JENIS PERSEPSI

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis

Persepsi visual

Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari. Persepsi kaum muslimin harus mengacu pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, ini yang kemudian disebut Islamic Worldview
Persepsi visual merupakan hasil dari apa yang kita lihat baik sebelum kita melihat atau masih membayangkan dan sesudah melakukan pada objek yang dituju

Persepsi auditori

Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.

Persepsi perabaan

Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.

Persepsi penciuman

Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.

Persepsi pengecapan

Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.

RESEARCH: https://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi